Profil Narasumber
Nama : Bima Slamet Raharja, S.S., M.A
Pekerjaan : Dosen Sastra Nusantara, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada
Menurut beliau, nasionalisme adalah sikap bangga terhadap apa yang kita miliki di negara ini, sikap menghargai apa yang sudah ada dari pendahulu dan orang-orang sekarang ini. Nasionalisme akan berubah-ubah dalam setiap generasi tergantung pada arus budaya ke dalam negeri. Jika budaya luar negeri yang masuk langsung diterapkan tanpa disaring terlebih dahulu, maka sikap nasionalisme di Indonesia akan terkikis. Untuk menghidupkan semangat nasionalisme, perlu adanya seorang pembangkit atau pelopor. Contohnya, Bung Karno adalah sumber inspirasi dan tokoh nasionalisme di Indonesia. Beliau sanggup membangkitkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan. Seseorang dikatakan nasionalis jika seseorang itu dapat mengajak orang lain untuk ikut serta memberikan pengarahan dan kesadaran tentang bersikap nasionalisme. Contoh bersikap nasionalisme dalam kehidupan kita sehari-hari antara lain, menghargai jasa para pahlawan, mengikuti kegiatan kampong misalnya acara tujuh belasan, mengikuti upacara hari Senin, mengikuti lawatan kesenian, apresiasi puisi, meneladani orang-orang yang patut diteladani, serta bersikap bangga terhadap produk dalam negeri.
Untuk meningkatkan rasa nasionalisme, seseorang harus bisa memberikan pemahaman dan kesadaran untuk diri sendiri, menambah wawasan kebangsaan, serta dengan bersikap open-minded. Terkadang bersikap open-minded dapat membuat kita menjadi terpengaruh oleh budaya luar. Narasumber menyebutkan peribahasa Jawa ”ngeli ning ora ngeli” yang artinya menghanyutkan diri tapi tidak ikut terhanyut. Maknanya, kita boleh saja mengikuti budaya luar tapi jangan sampai terbawa ke dalam sesuatu yang bertentangan dengan budaya Indonesia. Oleh karena itu diperlukan filterisasi budaya.
Perwujudan pemerintah dalam sikap nasionalisme antara lain dengan melakukan kegiatan penanaman pohon, mengadakan lawatan misi kesenian ke beberapa daerah, dan sebagainya. Namun, masalah Indonesia sekarang ini adalah kurang meratanya sikap nasionalisme. Sebagai contoh, penduduk di Kalimantan lebih senang menjual hasil buminya di Malaysia ketimbang di negaranya sendiri, Indonesia. Hal ini disebabkan oleh tinggi rendahnya harga yang didapat oleh si penduduk. Dia bias mendapatkan harga yang lebih tinggi di Malaysia. Hal ini menunjukkan bahwa peran pemerintah dirasa masih sangat kurang tentang program nasionalisme.
Pada akhir sesi wawancara, narasumber kami bertanya apakah mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraa dapat menjamin terwujudnya nasionalisme, mengingat bahwa mahasiswa peserta kuliah jumlahnya melebihi 100 orang dan ini dianggap tidak efektif. Hal ini memang pantas untuk dipertanyakan karena tidak menutup kemungkinan pada suatu waktu kelas Pancasila dan Kewarganegaraan akan menyimpang bahasannya dari materi yang seharusnya. Masalah ini seharusnya menjadi tugas bagi para dosen pengampu untuk memecahkan masalah bagaimana seharusnya kelas ini dikoordinir dengan baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar